tanpa henti dan inilah yang kemudian menimangku dalam senyap.
Jika dirimu tanpa batas mencintaiku, mengapa setiap detik kau batasi langkahku, jika begitu tulus kau memujaku, kenapa setiap detak kau membuatku resah dan merasa tak berguna. Jika merasa indah dengan semuanya mengapa terus menerus kau siram taman ini dengan kejenuhan.
Apa yang dimimpi, diangan, akan tetap ada untukku, semuanya yang hadir padamu, setiap doa dan setiap umpatan akan tetap mewakili bayangan itu sebagai aku, sosok yang mungkin tanpa jenuh mencintai sebuah kehangatan yang cepat menghilang dan keceriaan yang menghunus.
Gelap, fajar dan kemudian terang – benderang hanya satu detik yang bagiku tak cukup terlewati hanya untuk menunggumu, tetapi juga mengalun kepada semua senyum yang ternyata juga memujaku. Aku harus menghargai mereka satu persatu, menerimakan kesederhanaanku sebagai teman yang ikhlas menyayangi mereka, meruahkan sedikit semangat, meski terkadang marah pada batas yang tidak kumengerti.
Kau tak akan pernah tahu seberapa pilu dan sebanyak apa luka ini menganga dan sejak kapan naluriku terkarang dan kemudian melawan dengan beku setiap badai yang ada.
Kau tak akan pernah bisa mencerna seberapa deras alirku mengalir meski kadang membelok tanpa arah menghanyutkan siapa dan apa saja yang menghadang.
Kasihanilah taman itu, karena mereka akan ikut layu dengan sajakmu yang begitu memelas dan membabi buta, harum rumput itu akan cepat menghilang jika terus menerus kau memupuknya dengan larik – larik yang begitu membuat jenuh.
Aku akan tetap pada hati dan nyawaku, tak peduli seberapa kuat kau tersenyum dan merajuk, jika hanya sedalam itu kau menyanjung, berdirilah dan menjauh dariku, aku tak lagi ingin keindahan itu, aku tak lagi mampu merenung dan berfikir tentang senyummu, tinggalkan aku dengan harum rumput itu.
Februari 9, 2010
Kategori: wungu . . Penulis: sugengwiono . Komentar: Tinggalkan sebuah Komentar