embun

Terkadang kehampaan tak begitu menyayat, tak begitu menyakitkan, tak begitu membawa sepi, meski terkadang meluluhlantakkan bara, tapi hati memang tak pernah mati.

Waktu memang bisa membuktikan semuanya, menelan semuanya mentah – mentah, dan melenyapkan semua hingga sekedar menjadi sejarah yang tak terkenang, tapi waktu tak bisa melakukan satu hal, berhenti untuk mencermati dan menelaah sesuatu, mencegahnya terjadi atau menjadikannya lebih baik.

nadi meremang

tanpa henti dan inilah yang kemudian menimangku dalam senyap.

Jika dirimu tanpa batas mencintaiku, mengapa setiap detik kau batasi langkahku, jika begitu tulus kau memujaku, kenapa setiap detak kau membuatku resah dan merasa tak berguna. Jika merasa indah dengan semuanya mengapa terus menerus kau siram taman ini dengan kejenuhan.

Apa yang dimimpi, diangan, akan tetap ada untukku, semuanya yang hadir padamu, setiap doa dan setiap umpatan akan tetap mewakili bayangan itu sebagai aku, sosok yang mungkin tanpa jenuh mencintai sebuah kehangatan yang cepat menghilang dan keceriaan yang menghunus.

Gelap, fajar dan kemudian terang – benderang hanya satu detik yang bagiku tak cukup terlewati hanya untuk menunggumu, tetapi juga mengalun kepada semua senyum yang ternyata juga memujaku. Aku harus menghargai mereka satu persatu, menerimakan kesederhanaanku sebagai teman yang ikhlas menyayangi mereka, meruahkan sedikit semangat, meski terkadang marah pada batas yang tidak kumengerti.

Kau tak akan pernah tahu seberapa pilu dan sebanyak apa luka ini menganga dan sejak kapan naluriku terkarang dan kemudian melawan dengan beku setiap badai yang ada.

Kau tak akan pernah bisa mencerna seberapa deras alirku mengalir meski kadang membelok tanpa arah menghanyutkan siapa dan apa saja yang menghadang.

Kasihanilah taman itu, karena mereka akan ikut layu dengan sajakmu yang begitu memelas dan membabi buta, harum rumput itu akan cepat menghilang jika terus menerus kau memupuknya dengan larik – larik yang begitu membuat jenuh.

Aku akan tetap pada hati dan nyawaku, tak peduli seberapa kuat kau tersenyum dan merajuk, jika hanya sedalam itu kau menyanjung, berdirilah dan menjauh dariku, aku tak lagi ingin keindahan itu, aku tak lagi mampu merenung dan berfikir tentang senyummu, tinggalkan aku dengan harum rumput itu.

tanpa

langkah

tangis

darah

selalukah detik membimbingku tanpa

sisa pekat

sendu senja itu tak mampu lagi menelusuri kegelapan batin dan menghiburnya menjadi sebingkai senyum

kegagalan telah merenggut semua menjadi kacau tak terbiaskan dan menjadi seonggok tangis yang tak terhentikan, lara semakin mengiris dan menyayat menyamarkan keindahan yang dengan susah payah mencari setitik sinar

akankah darah kan terhenti, akankah membeku menutupi luka meski meninggalkan bekas

ah, senyum itu masih terngiang dan tak mau beranjak dari pelupuk, begitu ranum dan mengundang

bibir itu masih hangat seperti dulu, tapi apakah mampu kini menenggelamkan hati yang terberai

menangis menelungkupi malam ketika sesal semakin menjadi, semakin terbawa arus dan tak berkutik menghadapi  seribu jarum yang kini telah mengepung nurani, gelap, pekat dan tak akan terobati

palung

Ketika hati semakin tak yakin dengan alir yang ada, bibir beku ini coba menautkan sekelumit doa atas luka yang semakin menganga, entah berapa jua kulit kan tersayat dan hati kan berkeping.

Semakin gelap tangan merintih dan kaki terseok menyusuri setapak tak bersinar, semakin angkuh kerinduan bersandar di pahit yang semakin mengembara dialiran – aliran nadi tak terhentikan.

Kembali mekarkah krisan yang telah lama terpetik , layu atau bahkan mati?

Hanya menyadari bahwa ini adalah gurat yang harus berjalan, adalah roda yang harus mengitari poros, adalah surya yang harus berpura – pura menyinari dan kembali bersembunyi di senja hari.

Semakin gamang detak menjalani waktu, semakin lambat nadi mendeyutkan senyum

ja ga


terbias kantuk tetapi kemudian terantuk hentak dan kemudia mata kembali membuka menelusuri sesuatu yang tak kasat

musnahkah sahabat dengan keinginan puji

musnahkah martabat dengan sanjungan sepi

musnahkah abdi dengan sekelibat api

nirwana

Terkadang hati mengalah dan kembali tak percaya pada apa yang dirasa, terkadang senyum yang tergurat menyembunyikan kesedihan yang mendalam atas kesepian dan kebekuan hati yang teramat dalam dan tak terlukiskan.

Pagi ini krisan itu mekar dan mengundang siapapun untuk mengagumi sang keindahan, tapi kenapa tangis tak jua berhenti dan hati semakin menipu dan menyembunyikan nyawa yang sebenarnya.

Mengolok embun yang sejuk dan menyapu debu pagi bukanlah kebijakan yang khan meredam semua. Doa khan menautkan semua kata atas patah yang tak terperikan, semoga untaian kata suci dapat menerangi semua dan memperindah kodrat menjadi semestinya

Mampukah alam di acuhkan dan mampukah stiap gurat garis dipudarkan, waktu dan detiklah yang bisa menjawab tanpa tangis dan luka.

3

Meranum aku semakin tak kuasa menahan sesak, mengapa keindahan itu nampak dan tak berhenti memandang  mengundang, decak seakan terus bergelora memporak porandakan bianglala yang sedari tadi menata warna, hijau dan ungu menjadi biru, akankah sampai ke telaga bening dengan selamat.

Keindahan yang menetaskan semua bilik menjadi ruang tanpa batas, merusak semak yang mengganggu dan menjanjikan tanah lapang yang basah, menjatuhkan setiap embun dipucuk pinus kemudian memperindah terik di pagi buta, keindahan yang menyeruak diantara sesak tanpa makna

Hanya sesaat ataukah ini saatnya ?

arus

meremang bianglala enggan sudah menuju telaga, kesedihan tak berpendar dan semakin menyesakkan nadi, darah dan peluh tak lagi seperti biasa mengisi hari, gemericik seakan semakin berisik mengganggu gendang, musnahlah semua ranum menjadi gelap dan leburlah semua mimpi menjadi senyap, sunyi dan hening, bening dan tak bergerak

bias

selalukah pagi membawa kedamaian ? selalukah hangat mentari membawa kedamaian ? selalukah bening embun membuat tentram ?

Semuanya menjadi terbias tatkala jalur jalur darah mulai memikirkan keganasan hari, menjadi redup dan bahkan hilang saat pori mulai menyongsong himpitan yang terkadang tak ringan, menjadi sangat hambar, meski dibumbui penuh, saat lidah harus menghadapi beribu tanya dalam sedetik saja, kemanakah diam, tak layakkah nadi berdetak seperti biasa dan tanpa tekanan, tak layakkah bayu semilir begitu saja dan menggamit hangat apapun disekelilingnya.

semua menjadi kabur dan gelap

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.